REVIEW JURNAL METODE NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENENTUKAN AUTENTISITAS HADIS

Achmad Adil
1620510040
Identitas
Jurnal yang direview adalah jurnal penelitian yang ditulis oleh Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A. dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Jurnal yang berjudul Nasiruddin Al-Albani On Muslim’s Sahih: A Critical Study Of His Method. Jurnal ini diterbitkan dalam Jurnal Internasional Islamic Law and Society Volume 11 nomor 2 tahun 2004 pada rentang halaman 146-179. Jurnal ini diterbitkan oleh BRILL.

Abstrak
Jurnal ini ditulis untuk mengkaji pemikiran Nashiruddin terhadap keautentisitas hadis. Terutama mengkaji penilaian al-Albani dalam menilai terdapat hadis didalam Shahih Muslim yang da’if. Penelitian ini merupakan kajian tokoh sekaligus pemikirannya yang menghasilkan kesimpulan bahwa Nashiruddin al-Albani dalam menilai sebuah hadis itu sahih atau da’if dengan melakukan kajian terhadap isnad yang lebih diutamakan jika isnadnya tsiqah maka hadisnya pun tsiqah sebaliknya jika da’if maka al-Albani menghukuminya da’if.

A. Pendahuluan
Terkait dengan judul jurnal ini tentang metode Nashiruddin al-albani dalam menentukan autentisitas hadis, maka peneliti disini tiada lain kamaruddin amin mengawali tulisannya dengan menjelaskan biografi singkat dari Nashiruddin al-Albani.
Selanjutnya peneliti mengkaji bagaimana metode Nashiruddin al-Albani dalam menentukan autentisitas dan kepalsuan sebuah hadis terutama argumentasinya terkait hadis terkait hadis-hadis lemah yang terdapat dalam Shahih Muslim.
Kemudian peneliti mengkaji atau dengan kata lain menganalisis hadis-hadis yang dianggap lemah oleh al-Albani, baik itu dari perspektif ilmu hadis tradisional maupun metodologi sarjana non-muslim dalam melakukam penanggalan terhadap sebuah hadis. Sejauhmana meletakkan pemikirannya atas ilmu hadis tradisional yang lebih dulu di pondasikan, seberapa jauh melencengnya metode albani terhadap metode tradisional, dan apakah albani konsisten dalam menerapkan metode yang dibuatnya ? dan juga apa implikasi dari metode al-albani jika diterapkan pada hadis-hadis lain. Dan yang paling menarik dari penelitian ini yaitu seberapa kebalnya shahih muslim terhadap keritikan.
Atas dasar inilah yang membuat peneliti sangat tertarik untuk mengkaji lebih dalam terkait pemikiran Nashiruddin al-Albani yang memunculkan kontroversi-kontroversi dalam ilmu hadis.

B. Pembahasan
Sebelum memasuki inti pembahasan sedikit kita menyinggung hal yang telah masyhur diketahui umat muslim terlebih lagi bagi kalangan pengkaji hadis yaitu urgensi hadis nabi—baik dalam studi Islam maupun implementasi ajarannya bukanlah hal yang asing bagi kaum muslimin umumnya, apalagi bagi kalangan ulama. Hal ini mengingat hadis menempati posisi tertinggi sebagai sumber hukum dalam sistem hukum Islam (al-Tashri>’ al-Islami>) setelah al-Qur’an.
Sebagai referensi tertinggi kedua setelah al-Qur’an, hadis membentuk hubungan simbiosis mutualismdengan al-Qur’an sebagai teks sentral dalam peradaban Islam bukan hanya dalam tataran normatif-teoritis namun juga terimplementasikan dalam konsensus, dialektika keilmuan dan praktek keberagaman umat Islam seluruh dunia sepanjang sejarahnya. Bersama al-Qur’an, hadis merupakan “sumber mata air” yang menghidupkan peradaban Islam, menjadi inspirasi dan referensi bagi kaum muslimin dalam kehidupannya.
Seiring berkembangnya zaman seiring pula berkembangnya berbagai macam disiplin ilmu terutama ilmu hadis tanpa terkecuali. Begitu banyak muncul kitab-kitab yang mengkaji tentang hadis. Misalkan saja pada abad ke 15 muncullah seorang tokoh kontemporer yang cukup dikenal dalam wacana keilmuan hadis dan karya-karyanya yang popular sebagai rujukan dalam bidang hadis adalah Shaikh Nas}r al-Di>n al-Alba>ni>. Beliau dinilai menempati posisi sebagai referensi (marja’) bagi ahli hadis di zaman ini dan dikenal dengan sebagai pakar hadis yang produktif dalam menulis kitab-kitab hadis, meneliti dan mengedit (tahqi>q) karya-karya ulama hadis terdahulu.
Dalam penelitian ini akan dibahas tentang konsep pemikiran Shaikh Nas}r al-Di>n al-Alba>ni tentang hadis dengan terlebih dalulu menampilkan profil atau biografi pribadi dan latar keilmuannya.
1. Biografi Nashiruddin al-Albani
Nama lengkap al-Albani adalah Muhammad Nashiruddin bin Nuh bin Adam al-Najati, lebih dikenal dengan nama al-Albani, sementara itu nama panggilan sehari-hari adalah Abdurrahman, akan tetapi yang akrab pada telinga umat islam adalah al-Albani yang disandarkan oleh negara asalnya yaitu Albania. Al-Albani lahir pada tahun 1332 H dalam kalender Masehi yaitu tahun 1914 M di kota Askhodera (Skhoder) sebuah distrik pada negara Albania.
Ayahnya adalah seorang ulama pada kota kelahirannya yaitu Al-Hajj an- Najati. Nama lengkapnya yaitu Nuh bin Adam an-Najati al-Albani. Ayahnya adalah seorang pemuka Mazhab Hanafi di Albania, dan juga ahli pada ilmu Syar’i di Istanbul yang bekerja sebagai reparasi jam untuk menghidupi keluarganya.
Ayahnya memutuskan pindah ke Damaskus pada saat Raja Ahmad Zargo naik tahta, tepatnya saat al-Albani berusia sembilan tahun, baru lulus sekolah tingkat dasar dan belum mengetahui membaca dan menulis bahasa Arab. Al-Albani wafat pada 2 oktober 1999 M dalam usia 88 tahun di Yordania.
2. Proses Menuntut Ilmu dan Guru-Gurunya
Al-Albani memulai lembaranan kehidupannya yang baru di kota Damaskus dengan latar belakang keluarga yang miskin. Walaupun hidup dalam latarbelakang kemiskinan pendidikan agama islam tetap menjadi acuan dalam kehidupan keluarga al-Albani. Di kota inilah al-Albani kecil memperoleh pendidikan formal dengan dimasukkan pada sebuah sekolah setingkat Sekolah Dasar pada masa sekarang ini yaitu al-Is’a>f al-Khairi> al-Ibtidaiyah. Pada sekolah ini al-Albani tidak berlangsung lama, kemudian ayanya memindahkannya pada sekolah lain sampai menyelesaikan pendidikan dasar formalnya.
Setelah meyelesaikan pendidikan formalnnya ini ayahnya menghentikan pendidikan formal bagi al-Albani, karena ayahnya menganggap bahwa sekolah formal tidak memberikan manfaat selain mgajarkan anak-anak mampu membaca dan menulis. Sehingga ayahnya sendirilah yang membuatkan sebuah kurikulum untuk pendidikan al-Albani agar lebih fokus. Pada kurikulum inilah sehingga al-Albani mulai belajar al-Quran dan tajwidnya, ilmu Shorof, dan fiqih melalui mazhab Hanafi. Disamping itu al-Albani juga merasa penting untuk belajar pada guru-guru besar didaerahnya diantaranya adalah Syaikh Sa’id al-Burhani.#
Sejak kecil memang al-Albani sangat gemar membaca, tidak ada waktu luang yang terbuang percuma selain dimanfaatkan untuk membaca buku. Tahun demi tahun dilaluinya dengan proses belajar dengan dibarengi kegiatan sebagai tukang kayu dan reparasi jam suatu keahlian yang diwarisi i#oleh ayahnya karena keahlian ini sangat terkenal pada masa itu. Sehingga pantaslah julukan al-Sa’ati ( tukang reparasi jam) disematkan kepadanya.
Pada usianya yang menginjak 20 tahun mulailah al-Albani tertarik terhadap kajian terhadap Ilmu Hadis yang terinspirasi oleh dari tulisan Muhammad Rasyid Ridha pada majalah Al-Manar. Pada majalah itu terdapat sebuah makalah studi kritik hadis terhadapa Ihya>’ Ulu>>m al-Di>n karya dari al-Ghazali. Begitu tertariknya al-Albani terhadap Ilmu hadis yang sangat memikatnya, maka pudarlah ideoligi Mazhab Hanafi yang tertanam padanya. Sejak saat itulah al-Albani tidak lagi menjadi seorang yang mengacu pada mazhab tertentu (fanatik) melainkan setiap hokum agama yang datang dari pendapat tertentu pasti akan dipertimbangkannya terlebih dahulu .
Dalam penelitian ini kamaruddin Amin menulis bahwa al-Albani tidak mendapatkan pendidikan formal dalam studi hadis, namun hanya seorang yang secara otodidak mempelajari tentang ilmu hadis diperpustakaan-perpustakaan terutama pada perpustakaan Zahiriyya di Damaskus.
Tak cukup dengan belajar sendiri, Shaikh al-Albani pun sering ikut serta dalam seminar-seminar ulama besar semacam Shaikh Muhammad Bahjat al-Baitar yang sangat ahli dalam bidang hadis dan sanad. Didatanginya pula majelis-majelis ilmu Shaikh Bahjat al-Baitar dan Shaikh al-Albani pun banyak mengambil manfaat darinya, dari majelis serta diskusi-diskusi ini mulai tampaklah kejeniusan Shaikh al-Albani dalam sains hadis. Suatu ketika ada seorang ahli hadis, al-musnid (ahli sanad), sekaligus sejarawan dari Kota Halab (Aleppo) tertarik kepadanya, beliau adalah Shaikh Muhammad Raghib at-Tabbakh yang kagum terhadap kecerdasan Shaikh al-Albani. Shaikh at-Tabbakh berupaya menguji hafalan serta pengetahuan Shaikh al-Albani terhadap ilmu mustholah hadis, dan hasilnya pun sangat memuaskan. Maka turunlah sebuah pengakuan dari Shaikh al-Tabbakh, yaitu al-Anwa>r al-Jaliyyah fi Mukhtashar al-Atsbat al-Hanbaliyyah, sebuah ijazah sekaligus sanad yang bersambung hingga Imam Ahmad bin Hanbal (yang melalui jalur Shaikh at-Tabbakh). Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang Imam ahli hadis di antara Imam yang empat (Hanafi, Malik, Syafi’i, dan Ahmad), Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’i (dalam hal fiqh) sekaligus guru Imam Syafi’i (dalam hal ilmu hadis), dan Imam Ahmad juga merupakan guru yang paling berpengaruh bagi Imam Bukhari (sang bapak muhadis).
Pada tahun 1961 mendapatkan gelar Professor hadis dari Islamic Univerity of Madinah. Al-Albani mendapatkan panggilan dari universitas tersebut yang pada saat itu di pimpin oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai rector sekaligus menjabat sebagai mufti Kerajaan Arab Saudi pada saat itu. Al-albani di proyeksikan menjadi dosen disana untuk mengajar ilmu hadis dan fiqh Hadis pada fakultas Pascasarjana, bahkan menjadi Guru Besar ilmu hadis.
Persentuhan al-Albani pertama kali dengan Hadis dimulai dengan menyalin dan mengomentari kitab al-Iraqi dengan melakukan takhrij dan kajian ulang hadis-hadis yang terdapat dalam kitab ‘Ihya> Ulu>m al-Di>n. Pada tahap selanjutnya barulah al-Albani memulai kegiatannya denganmelakukan kritik terhadap karya-karya ulama hadis terkemuka seperti Imam Bukhari, Imam Musim dan imam kitab empat sunan lainnya.
Sebagai sarjana yang produktif al-Albani menulis begitu banyak buku, ada sekitar 117 buku diantaranya: Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Mawadhu’ah wa Atsaruha As-Sayyi fi Al-Ummah, At- Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, Tahdzir As-Sajid min Ittikhadz Al-Qubur Masajid, Hijab Al-Mar’ah Al-Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah. Dalam karya-karyanya ini, Albani telah mengidentifikasi 990 hadis yang dianggap autentik oleh mayoritas sarjana Muslim, namun oleh Albani dianggap lemah. Diantara contoh hadits yang dianggap lemah oleh Albani adalah hadits yang berkaitan dengan berkurban.
3. Kriteria Otentisitas Hadis Albani
Nashiruddin al-Albani dalam menentukan kriteria otentisitasna sebuah hadis mesti bertumpu pada ketsiqahan isnad pada masing-masing perawi, karena bias saja dalam sebuah sanad hadis tersebut terdapat masalah di dalam sanadnya, misalnya sanadnya tidak bersambung atau salah satu periwayatnya tidak tsiqah (adil dan dhabit).
Adapun criteria ketersambungannya sebuah sanad itu menurut al-Albani ada 3 (tiga) yaitu, Pertama, rawi-rawi yang terdapat didalam sanad yang diteliti harus tsiqah. Kedua, sebuah sanad dikatakan bersambung apabila masing-masing rawi dalam menyampaikan hadisnya kepada rawi berikutnya menggunakan alat penghubung yang mempunyai kualitas yang tinggi sebagaimana yang telah disepakati oleh ulama yaitu (sami’a) yang menunjukkan adanya pertemuan antara keduanya atau dengan kata lain ada guru dan murid. Term atau istilah yang dipakai untuk cara al-sama’ sangat berragam diantaranya adalah: سمعت, حدثنا, حدثنى, أخبرنا, أخبرني, قال لنا, ذكرلنا. Ketiga, mesti ada indikasi yang menunjukkan secara kuat adanya perjumpaan diantara mereka. Dan cara untuk memperoleh kejelasan tentang perjumpaan diantaranya ada 3 (tiga) yaitu (1) terjadi proses guru murid, yang dijelaskan oleh penulis Rijal al-Hadis didalam kitabnya, (2) dengan melihat tahun lahir dan wafat mereka dengan memperkirakan adanya pertemuan antara mereka atau dipastikan bersamaan, (3) mereka tinggal belajar atau mengabdi di tempat yang sama.
Al-Albani menetapkan criteria yang demikian karena pada prinsipnya beberapa hadis yang telah dinilai sahih belum tentu sahih sanadnya, sehingga hal terpenting bagi al-Albani ketika ingin menentukan otentisitas sebuah hadis adalah dengan meneliti atau melihat ketsiqahan isnad hadis tersebut, maka dari itu al-Albani berkesimpulan bahwa hadis yang tidak tsiqah isnadnya maka dinilai hadisnya tidak tsiqah pula.
4. Hadis Yang Dinyatakan Lemah Oleh Nashiruddin al-Albani
Untuk mengilustrasikan metode Al-Albani, Kamaruddin Amin dalam karyanya yang berjudul “Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits”, menganalis hadits tentang “sapi” salah satu hadits yang dilemahkan oleh Albani. Hadits tersebut ditulis dalam salah satu kitab hadits yang sangat bergengsi yaitu Shahih Muslim. Bunyi hadits tersebut adalah:

عَنْ جَا بِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَلَ : قاَلَ رَسُوْ لُ اللَّهِ صَلىَّ اللَّهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ تَذْ بَحُوْا أِلاَّ مُسِنَّةً, أِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْ بَحُوْا جَذَ عَةً مِنَ لضَّأْ نِ.
Artinya: Dari Jabir Bin Abdullah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “janganlah kamu menyembelih hewan kurban kecuali telah dewasa. Namun, jika sulit kau dapatkan, maka sembelihlah kambing muda.”

Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini lemah (dha’if) disebabkan oleh fakta bahwa salah seorang perawinya adalah Abu Az-Zubair. Menurutnya riwayat Abu Az-Zubair dari Jabir tidak bersambung (ghairu muttashil) dengan alasan bahwa (1) para kritikus hadits menyifati Abu Az-Zubair sebagai Mudallis[21]; (2) dia tidak mengatakan secara eksplisit apakah mendengar langsung dari Jabir, namun menggunakan lafal “an” (atas otoritas dari).
Al Albani menambahkan telah disepakati dalam ilmu hadits, bahwa hadits yang diriwayatkan oleh perawi Mudallis tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, apabila dia tidak menyatakan secara eksplisit cara penerimaan haditsnya. Hal ini terjadi pada diri Abu Az-Zubair. Al-Albani menyimpulkan bahwa kebenaran setiap hadits yang diriwayatkan oleh Abu Az-Zubair dari Jabir atau dari orang lain yang menggunakan lafal “an” dan sejenisnya, harus ditunda. Dengan kata lain, ketergantungan pada hadits tersebut harus diakhiri hingga cara penerimaannya, dimana Abu Az-Zubair mendengar hadits tersebut secara langsung atau ditemukannya hadits lain yang menguatk perannya. Hal ini dikarenakan istilah atau term “’an” termasuk istilah yang paling lemah dalam metode periwayatan atau penyebaran hadits, sebab hal itu tidak menunjukkan adanya pertemjuan langsung antara seorang perawi dengan gurunya.
Menurut Al-Albani, riwayat Abu Az-Zubair dari Jabir tidak diragukan apabila diriwayatkan oleh Al-Laits bin Sa’d, karena Al-Laits mengklaim telah menerima dari Abu Az-Zubair, hanya hadits yang telah didengar oleh Abu Az-Zubair dari Jabir. Dari 360 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Az-Zubair dari Jabir dalam Kutub as Sittah, hanya 27 yang diriwayatkan oleh Al-Laits bin Sa’d. Hadits ini menyatakan bahwa tidak diizinkan menyembelih untuk kurban seekor domba yang berumur satu tahun, kecuali dalam keadaan ketika seekor sapi yang cukup umur terlalu mahal atau sulit didapatkan dipasar.
Hadits dari Uqbah bin ‘Amir: kami bersama Nabi menyembelih seekor domba yang berumur satu tahun. Hadits lain adalah dari Mujasyi’ bin Mas’ud adalah:

إِنَّ الْجَذَعَ يُوْفِي مِمَّا يُوْفِي مِنْهُ الثَّنِيَّةُ
Artinya: Sesungguhnya domba yang berumur satu tahun sama fungsinya dengan yang berumur dua tahun.

Menurut Al-Albani, dua hadits terakhir adalah sahih, karena perawi yang terlibat dalam jaringan isnad-nya dapat dipercaya (tsiqoh). Mengenai hadits ‘Uqbah bin ‘Amir, Al-Albani berpendapat bahwa hadits tersebut tampak membolehkan domba yang berumur satu tahun sebagai sembelihan untuk kurban. Akan tetapi, kebolehan itu diberikan hanya untuk ‘Uqbah. Kebolehan ini berdasarkan atas sebuah hadits:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَا مَرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْجُهَنِيِّ قَالَ : قَسَمَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْنَا ضَحَاياَ, فَآَصَابَنِيْ جَذَعٌ, فَقُلْتُ: ياَرَسُوْ لَ اللَّهِ, أِنَّهُ أَصَابَنِيْ جَذَعٌ, فَقَلَ : ” ضَحِّ بِهِ “.

Artinya: Uqbah bin Amir r.a. mengatakan bahwa Rasulullah membagi-bagikan daging kurban, lalu ia memperoleh seekor kambing muda jenis biri-biri, kemudian ia bertanya, “ya Rasulullah, saya telah memperoleh seekor kambing muda?” Rasulullah menjawab, “sembelihlah untuk kurban.“

Al-Albani mengutip hadits lain yang menafsirkan hadits Mujasyi’ bin Mas’ud. Hadits ini tampaknya membolehkan berkurban seekor domba yang berumur satu tahun yang mempunyai rambut. Menurut Al-Albani bukan ini yang dimaksudkan. Menurut sebuah hadits dari Al-Bara’; Om dari ibuku Abu Burdah menyembelih seekor binatang untuk kurban sebelum idul adha. “Nabi berkata; itu adalah daging kambing (yang tidak ada kaitannya dengan ritual kurban). Ia berkata: wahai Rasul saya memiliki.’ “ Nabi berkata; berkurbanlah dengannya, dan hal itu tidak cocok bagi orang lain selain engkau. Sebagaimana hadits dibawah ini:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أِنَّ أَوَّلَ ماَنَبْدَأُ بِهِ فِيْ يَوْمِنَا هَذَا نُصَلَّيْ, ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ, فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا, وَمَنْ ذَبَحَ فَأِ نَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّ مَهُ لِأَهْلِهِ , لَيْسَ مٍنْ النُّسُكِ فِيْ شَيْ ءٍ. وَكَانَ أَبُوْ بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَدْ ذَبَحَ فَقَلَ : عِنْدِيْ جَذَعَةُ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ , فَقَالَ : ” اذْبَحْهَا وَلَنْ تَجْزِ يَ عَنْ أَحَدً بَعْدَكَ.”
Artinya: Al-Barra bin Azib r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Pada hari raya kurban ini pertama kali yang kita lakukan adalah shalat, kemudian kita pulang, lalu menyembelih hewan kurban. barang siapa berbuat seperti itu, maka ia sesuai dengan ajaran kami. Dan barang siapa menyebilih kurban sebelum shalat, maka dagingnya menjadi sedekah biasa yang dia berikan kepada keluarganya tanpa ada nilai kurban sama sekali”. Abu Burdah bin Nyiar r.a. menyembelih kurban. dia berkata, “saya mempunyai seekor kambing muda yang lebih bagus daripada kambing dewasa? Rasulullah bersabda, “sembelihlah, tetapi kambing muda seperti itu tidak cukup untuk kurban orang lain sesudah kurbanmu itu”

Al-Albani berpendapat bahwa kedua hadits sahih tersebut dan hadits dari ‘Uqbah dan Al-Barra’ mengonfirmasikan kelemahan hadits Abu Az-Zubair sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Metode al-Albani jelas yaitu yang pertama-tama bahwasanya al-albani menganalisis sanad hadis. Isnad yang tidak tsiqah maka hadisnya tidak tsiqah. Sehingga jika demikian maka al-Albani merasa bahwa tidaklah penting untuk menafsirkan sebuah hadis yang isnadnya tidak tsiqah, karena penafsiran adalah bagian autentifikasi. Namun demikian al-Albani akan menafsirkan hadis yang isnadnya tsiqah apabila bertentangan dengan matan lain yang tidak sesuai dengan matan tsiqah yang lain. Untuk lebih jelasnya metode al-Albani akan di jelaskan pada pembahasan selanjutnya.

5. Metode Kritik Hadis al-Albani
Di antara metode Al-Albani dalam mensahihkan atau melemahkan suatu hadis adalah dengan mencermati indikasi-indikasi (qari>nah) yang terdapat pada sanad dan matan hadis. Setiap hadis memiliki kajian khusus dalam penetapan hukumnya dan memiliki indikasi tersendiri pada sanad dan matan-nya yang mempengaruhi penilaian validitasnya. Sebagian orang keliru ketika mengkritik Al-Albani dalam mensahihkan suatu hadis tertentu, padahal menurut mereka isnad hadis tersebut di-d}a’i>f-kan oleh Al-Albani sendiri di tempat lain. Kekeliruan mereka karena tidak memperhatikan secara cermat bahwa Al-Albani berbeda dalam menghukuminya karena perbedaan qari>nah yang terdapat pada masing-masing hadis tersebut.
Penilaian status validitas suatu hadis adalah suatu ijtihad. Perubahan dan revisi (tara>ju’) penilaian Al-Albani terhadap suatu hadis adalah hal yang diakui sendiri oleh Al-Alba>ni> terutama hadis yang berada di zona status hasan. Menurut al-Alba>ni>, hal iniadalah suatu keniscayaan sebagaimana al-Ha>fiz} al-Dhahabi> menyebutkan dalam kitabnya Al-Mu>qiz}ah (hal. 28-29) bahwa hadis hasan tidak memiliki kaidah baku yang bisa berlaku universal untuk seluruh hadis. Oleh karena ini banyak para huffa>z} yang ragu-ragu (taraddud) dan dan berubah-ubah sikap dalam menilai suatu hadis, apakah hasan, d}a’i>f ataukah sahih? Bahkan seorang hafi}z bisa merubah ijtihad-nya dalam penilaian terhadap suatu hadis dalam waktu berbeda.37

Dalam Kitabnya Tama>m al-Minnah fi al-Ta’li>q ‘ala Fiqh al-Sunnah, Al-Alba>ni> merumuskan beberapa kaidah untuk mendalami dan memahami sunnah (dari aspek validitasnya), sebagai berikut:
Dalam Kitabnya Tama>m al-Minnah fi al-Ta’li>q ‘ala Fiqh al-Sunnah, Al-Alba>ni> merumuskan beberapa kaidah untuk mendalami dan memahami sunnah (dari aspek validitasnya), sebagai berikut:

1. Kaidah Pertama; Menolak hadis syadz. Hal ini karena di antara syarat hadis sahih adalah tidak mengandung syadz. Kemudian Al-Albani mengutip definisi hadis sahih menurut ulama hadis yang disebutkan oleh Ibn S{alah. Hadis syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi tsiqah maqbu>l yang menyelisihi perawi lain yang derajat ke-tsiqah-annya lebih tinggi.Sebagaimana pendapat para ulama hadis, Al-Albani menegaskan bahwa unsur syadz bisa terdapat di sanad dan juga matan.

2. Kaidah kedua; Menolak hadis mud}tarib. Di antara syarat hadis sahih adalah tidak mengandung ‘illat. Di antara illat hadis adalah adanya id}tira>b (ketidakpastian dan ambigu). Hadis mud}tarib adalah hadis yang periwayatannya dipertentangkan karena saling berbeda satu dengan yang lain, sementara kekuatan validitasnya setara sehingga tidak dapat ditentukan mana yang tepat. Jika perawi salah satu di antara riwayat yang saling bertentangan itu memiliki kelebihan dari aspek kekuatan hafalan (ahfaz})atau kuantitas perawinya lebih banyak maka tidak termasuk kategori mud}tarib karena dapat di-tarji>h (dipilih yang paling kuat). Kondisi mud}tarib ini dapat terjadi pada sanad dan matan serta berimplikasi pada pelemahan validitas hadis tersebut karena hal tersebut menunjukkan ketidak-d}a>bit-an para perawinya.

3. Kaidah ketiga; Menolak hadis mudallas. Tadli>s terjadi dalam tiga bentuk yaitu tadli>s isna>d, tadli>s al-shuyu>kh dan tadli<s al-taswiyah. Hukum dari perawi yang divonis melakukan tadli>s adalah tidak diterima (la yuqbal)walaupun dia perawi adil kecuali disebutkan secara tegas (eksplisit) menggunakan ungkapan tahdi>th (seperti haddathana>, haddathani>, sami’na>, sami’tu).

4. Kaidah keempat; Menolah hadis majhu>l. Al-Alba>ni> mengutip pendapat al-Khati>b al-Baghda>di> yang mendefiniskan perawi majhu>l dengan mereka yang tidak terkenal melakukan aktivitas keilmuan dan identitas dan kredibilitas pribadinya juga tidak dikenal pula oleh para ulama serta hanya memiliki satu murid (perawi) yang meriwayatkan hadis darinya menurut catatan para ulama hadis. Aspek jaha>lah ini hilang bila perawi tersebut memiliki dua orang murid (perawi) atau lebih di kalangan para perawi mashhu>r (yang dikenal meriwayatkan hadis). Namun aspek ‘adalah perawi semacam ini menurut Al-Alba>ni>, belum dapat dipastikan. Perawi tersebut disebut majhu>l h}a>l atau mastur dan diperselisihkan status validitas hadisnya. Menurut sekelompok ulama, riwayat hadisnya diterima. Namun, menurut mayoritas ulama hadis perawi mastur tidak diterima secara mutlak dan juga tidak ditolak secara mutlak sampai ada kejelasan status karena validitasnya mengandung kemungkinan (ihtima>l). Menurut Al-Alba>ni>, kejelasan status validitas dapat ditentukan dengan adanya penilaian positif (tawthi>q) dari ulama ha>fiz} dan terpecaya penilainnya. Disyaratkan “terpecaya penilainnya” karena ada beberapa ulama hadis yang penilainnya sering menyelisihi (syaz) mayoritas ulama hadis dengan menilai tsiqah perawi majhu>l seperti al-Ha>fiz} Ibnu Hibban. Demikian pula, riwayat perawi mastu>r dapat diterma bila yang meriwayatkan hadis darinya adalah sejumlah perawi tsiqah dengan syarat hadisnya tidak mengandung hal yang dikritik (ma> yunkar ‘alaih). Hal ini menjadi pendapat ulama hadis muta’akhiri>n seperti Ibn Kathi>r, al-‘Ira>qi>, al-Asqala>ni>, dan lain-lain.

5. Kaidah kelima; Tidak boleh berpatokan kepada penilaian tsiqah (tawthi>q) yang dilakukan oleh Ibn Hibban. Pendapat Al-Albani ini disandarkan pada penjelasan Ibnu Hajar dan para ulama hadis sebelumnya yang menetapkan adanya sikap tasa>hul Ibn Hibban. Ibnu Hibban menilai bahwa perawi yang terlepas dari status tidak dikenal indentitasnya (jaha>lah al-‘ain) dan tidak terdapat data jarh padanya maka ditetapkan sifat ‘adalah padanya. Bahkan menurut Ibn Hibban, status jaha>lah al-’ain seorang perawi majhu>l hilang jika hadisnya diriwayatkan oleh cukup seorang perawi masyhur. Hal inilah yang diterapkan oleh Ibn Hibban dalam kitabnya “al-Thiqa>t”. Pendapat tersebut, menurut Ibn Hajar dinilai bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama hadis. Bahkan, Al-Albani menegaskan “keanehan” Ibn Hibban dengan mencantumkan dalam Kitab “al-Thiqa>t” sejumlah perawi yang dinyatakan sendiri oleh Ibn Hibban “tidak dikenal indentitas mereka dan bapak-bapak mereka”. Oleh karena itu, para peneliti di kalangan ulama hadis seperti Al-Dhahabi>, al-‘Asqala>ni> tidak menilai tsiqah perawi yang hanya Ibn Hibban sendiri (tafarrud) yang men-tsiqah-kannya.
6. Kaidah keenam; Penilaian ahli hadis dalam bentuk ungkapan “Seluruh perawinya adalah perawi hadis sahih” (Rija>luh rija>l al-S{ahi>h) atau “Seluruh perawinya tsiqah” (rija>luh thiqa>t) terhadap suatu hadis bukanlah pensahihan atas hadis dimaksud. Bentuk penilaian tersebut tidak sama dengan ungkapan “isna>duh sahi>h”. Hal ini karena penilaian tersebut mengindikasikan belum tercakupnya penelitian terhadap aspek terbebasnya hadis dari masalah illat dan syadz, namun hanya mencakup aspek ke-tsiqah-an para perawinya.
7. Kaidah ketujuh; Dalam penilaian hadis dalam Sunan Abi Da>wud, tidak berpatokan pada tidak adanya komentarnya Abu Dawud. Hal ini karena Abu Da>wud dalam menerangkan metodologi Sunan-nya adalah jika terdapat kelemahan yang berat, maka dia akan menjelaskan. Namun bila Abu Dawud tidak mengomentarinya, maka hadis tersebut “S{a>lih”. Terkait dengan pemaknaan ungkapan“s{a>lih” ini, para ulama hadis berbeda pendapat karena ada yang mengartikannya dengan hasan, namun ada pula yang mengartikan dengan lebih luas mencakup hadis d}a’i>f yang tidak terlalu parah dan dapat dijadikan sha>hid. Pendapat terakhir tersebutlah yang dikuatkan oleh Al-Albani, sebagaimana pula ulama lain seperti Ibn Mandah, al-Dhahabi>, Ibn ‘Abd al-Ha>di>, Ibn Kathir, Ibn Hajar, dan lain-lain.

8. Kaidah kedelapan: Tidak bersandar sepenuhnya kepada penilaian tsiqah Al-Suyut}I dalam Kitab “Al-Ja>mi’ al-S{aghi>r”. Hal ini karena dua alasan; (1) adanya perbedaan simbol (ramz) penilaian yang mengindikasikan adanya perubahan secara tektual dalam beberapa versi cetakan dari varian manuskrip kitab tersebut. (2) Al-Suyut}I dikenal dengan sikap longgar dan mempermudah(tasa>hul) dalam pensahihan dan pen-d}a’i>f-an hadis. Menurut Al-Albani, ada ratusan hadis yang dinilai sahih atau hasan oleh Al-Suyut}I tetapi ditolak oleh al-Muna>wi> dalam penjelasan (sharh) atas Kitab “al-Ja>mi’ al-S{aghi>r”.

9. Kaidah kesembilan; Tidak adanya komentar al-Mudhiri> terhadap hadis-hadis yang dicantumkannya dalam Kitab al-Targhi<b wa al-Tarhi>b bukankan bentuk indikasi penguatan validitas hadis tersebut.

10. Kaidahkesepuluh; Penguatan validitas hadis dengan banyaknya jalur periwayatan bukanlah kaidah yang berlaku mutlak. Penguatan riwayat dari suatu perawi lemah (d}a’i>f) dapat dilakukan bila kelemahannya bersumber dari kelemahan hafalan perawi tersebut. Namun, bila bersumber dari masalah kejujuran perawi (tuhmah fi s}idqih) atau indikasi cacat agamanya (tuhmah fi di>nih) maka tidak bisa dinaikkan derajat validitasnya walaupun banyak jalur periwayatan lain yang menguatkan.
11. Kaidah kesebelas; Tidak boleh menyebutkan atau mencantumkan hadis d}a’i>f kecuali dengan menyertakan penjelasan ke-d}a’i>f-annya. Al-Alba>ni> mengritik banyaknya penulis buku di zaman ini yang tidak mengikuti kaidah ini.
12. Kaidah kedua belas; Tidak beramal dengan hadis d}a’i>f dalam masalah keutamaan amal (fad}a>il ‘amal). Penjelasan tentang pendapat Al-Albani ini terdapat dalam sub bab tersendiri dalam makalah ini.
13. Kaidah ketiga belas; Tidak boleh menggunakan ungkapan “Rasulullah SAW bersabda….” (qa>la Rasu>l Allah S}alla> Allah ‘alaih wa Sallam…) atau semisalnyapada hadis-hadis yang berkualitas d}a’i>f.
14. Kaidah keempat belas; Wajib beramal dengan hadis sahih walaupun tidak ada seorangpun yang mengamalkannya.
15. Kaidah kelima belas; Perintah pembuat syari’at (al-Sha>ri’) yang tujukan kepada satu orang merupakan perintah untuk seluruh pribadi kaum muslimin. Perintah itu berlaku umum selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya (takhs}i>s). Inilah pendapat Al-Albani merujuk pendapat al-Shauka>ni> dan Ibn Hazm dan lain-lain ditengah perbedaan pendapat ulama Us}ul Fiqh tentang masalah tersebut.
Meskipun demikian akan tetapi al-Albani terkadang inkonsisten dalam menilai suatu hadis terkadang pada kitab ini menilai sahih tetapi pada kitab lain justru menilai sebaliknya yaitu da’if.
C. Kesimpulan
Dalam melakukan autentisitas hadits Al-Albani membuktikan kesahihan hadis lewat tradisi kritis kesarjanaan Islam yang bertumpu pada analisis isnad untuk menguji autentisistas hadis. Dengan bersandar sepenuhnya pada informasi kamus-kamus biografi tentang kualitas para perawi hadis. sayangnya, beliau tidak mengkaji secara komprehensif biografi tersebut, tetapi begitu saja mengikuti penilaian dari para penulis biografi. Dia mengemukakan bahwa isnad hadis yang tidak tsiqah (tepercaya) berarti tidak tsiqah pula hadisnya dan karenanya harus ditolak, sehingga penafsiran apa pun terhadap matan hadis dan periwayatannya tidak relevan bagi Al-Albani. Karena penafsiran, jika diterapkan, juga bagian dari autentifikasi hadis, sedang Al-Albani hanya bertumpu pada ketsiqahan isnad, bukan matannya.
Namun demikian metode ini terlalu umum. Seperti pada kasus Abu Az-Zubair diatas, beliau melemahkan hadits hanya karena Abu Az-Zubair dianggap telah melakukan tadlis dalam periwayatannya. Padahal penilaian Al-Albani terhadap Abu Az-Zubair tidak didasarkan pada penelitian komprehensif terhadap biografi riwayat Abu Az-Zubair, tidak juga pada studi analisis terhadap riwayat Abu Az-Zubair melainkan hanya berdasar pada penilaian para kritikus hadits.
Penilaian lemah Al-Albani terhadap hadits tersebut atas dasar penilaian negatif terhadap keterpercayaan Abu Az-Zubair, hal ini memiliki konsekuensi serius pada hadits-hadits lain yang mungkin tidak beliau sadari. Pernyataan Al-Albani atas lemahnya hadits ini didasarkan pada kenyataan bahwa Abu Az-Zubair menggunakan term “’an”, dan tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa Muslim dan para penghimpun hadits yang lain tidak menganggap terminologi yang digunakan oleh para tabi’in sebagai kriteria yang menentukan untuk menetapkan apakah seorang perawi terpercaya atau tidak. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa Muslim, misalnya merekam riwayat generasi tersebut bukan hanya menggunakan term “sami’a” tapi juga menggunakan term “’an”
Dari sini dapat difahami bahwa terminologi semacam ‘an (diriwayatkan dari..), sami‘a (dia mendengar …), haddatsan, akhbarana, dan seterusnya tidak harus diartikan sebagai model periwayatan yang menetukan ketsiqahan hadis.
Menurut Kamaruddin Amin, terminologi-terminologi tersebut tidak berlaku sebagai kriteria kesahihan hadis bagi para ulama abad pertama hijriah. Artinya, para perawi di abad tersebut tidak secara sengaja dan sadar menggunakan beragam terminologi tersebut sebagai cara menentukan tingkat kesahihan dan tidaknya sebuah hadis.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Kamaruddin. Na>siruddi>n Al-Alba>ni> on Muslim’s Sahih: A Critical Study of His Method, Jurnal Islamic Law and Society, 2004.
Abdurrahman, Al-Albani, sosok seorang ahli hadis, ( Republika, Jumat, 5 Maret 2004).
al-‘Aizuri>, Abdurrahman bin Muhammad. Juhu>d al-Alba>ni> fi> al-Hadi>th Riwa>yatan wa Dira>yatan, Riyadh; Makhtabah al-Rushd, 1425 H.
Bakar, Umar Abu. Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Kenangan, Solo; Pustaka at-Tibyan, t.t.
Bustamin, M. Isa H. A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Qadir, Abu Yahya Zakariya bin Ghulam. Al-Albani wa Manhaj al-Aimmah al-MMutaqaddimin fi Ilm al-Hadith, Riyadh; Maktabah al-Ma’arif, 1431 H.
al-Albani, Abu Abdurrahman Nasharuddin. Tamam al-Minnah fi al-Ta’liq ala Fiqh al-Sunnah, T.tp; Dar al-Rayah, t.th.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s