Pendekatan dan Metode tafsir

Pendekatan dan Metode tafsir

BAB I

Pendahuluan

Al-Qur’an menduduki posisi penting dalam kehidupan kaum muslimin. Sementara kebutuhan mereka untuk memahami dan mengamalkan Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari tafsir. Karena itu, kitab-kitab tafsir selalu bermunculan dari masa ke masa untuk memenuhi kebutuhan umat.

Terdapat berbagai pendekatan, metode dan corak kecenderungan dalam tafsir Al-Qur’an. Istilah-istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, tumpang-tindih, tidak digunakan secara mapan. Sebagian ulama menyebut metode penafsiran ada dua, yakni metode penafsiran dengan riwayat serta dengan ra’yu. Hasan Hanafi menyebut beberapa metode penaafsiran yang oleh penulis lain tidak disebut metode, melainkan kecenderungan (ittijah), seperti tafsir fiqhi, falsafi, ‘ilmi, ijtima’i, dll. Berangkat dari permasalahan itu, perlu kiranya kita membahas persoalan metode dan pendekatan dalam ilmu tafsir.

BAB II

Pembahasan

 

  1. Pendekatan-pendekatan Tafsir

Abdullah Saeed mencatat ada empat pendekatan tradisional yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur’an: pendekatan berbasis bahasa, pendekatan berbasis rasio, pendekatan berbasis riwayat/tradisi, dan pendekatan mistik.[1] Pada umumnya, seorang mufasir tidak hanya berpegang pada satu pendekatan saja ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Kecuali pendekatan mistis, ketiga pendekatan lainnya hampir selalu terlibat dalam karya-karya tafsir klasik dengan proporsi yang beragam. Secara ekslusif, pendekatan berorientasi mistik banyak dipraktekkan oleh para mufasir dari kalangan Sufi[2] dan Syi’ah.[3] Kategori yang lebih populer membagi pendekatan hanya menjadi dua saja, yakni pendekatan berbasis riwayat dan pendekatan berbasis pada ra’yu,[4] dengan pengertian ra’yu sebagai segala pertimbangan selain riwayat.

  1. Pendekatan Kebahasaan.

Penggunaan pendekatan bahasa memiliki alasan yang kuat mengingat Al-Qur’an merupakan pesan-pesan Allah yang dikemas dalam media bahasa. Cara paling mendasar untuk memecahkan pesan-pesan tersebut adalah mencocokkannya dengan pengetahuan kebahasaan yang secara konvensional telah berlaku dalam kehidupan Bangsa Arab. Tanpa Bahasa Arab, tak ada yang dapat dipahami dari Al-Qur’an.[5]

Menggunakan pengetahuan kebahasaan untuk menafsirkan Al-Qur’an bukan berarti selalu memaknai setiap kata dan kalimat-kalimatnya secara harfiah (literal). Orang Arab mengenal manthuq (makna tersurat) dan mafhum (makna tersirat), sehingga pemahaman tidak harus  didapat dari kata-kata yang tertulis. Seperti dalam bahasa lain, sebagian lafadz dalam Bahasa Arab kadang juga memiliki makna haqiqi (literal) dan sekaligus majazi (metafor). Dalam konteks makna haqiqi, sebuah lafadz ada kemungkinan memiliki makna syar’iy (legal), ‘urfiy (konvensional) dan atau lughawiy (etimologis) sekaligus. Secara literal, kata tangan bermakna salah satu anggota badan, tapi secara metafor, tangan juga bisa bermakna kekuasaan (qudrah).[6]

  1. Pendekatan Rasio.

Ketika suatu lafadz memiliki banyak alternatif makna, mana yang akan dipilih untuk diterapkan dalam memahami suatu ayat? Agar dapat  menjawabnya, seorang mufasir harus mengaktifkan seluruh daya pikirnya (ijtihad). Apa yang dilakukan oleh kelompok Mu’tazilah, yang gemar mengalihkan makna literal ayat menuju makna metafornya, atau yang biasa disebut dengan istilah ta’wil, tidak lain hanyalah usaha untuk menjatuhkan pilihan makna yang dianggap paling tepat di antara alternatif makna yang tersedia dalam khazanah Bahasa Arab berdasarkan suatu indikator (qarinah), misalnya makna harfiah Al-Qur’an yang dalam kacamata suatu mazhab teologis berimplikasi pada penyematan sifat makhluq kepada Allah SWT (antropomisme/tasybih). Barangkali inilah salah satu bentuk pendekatan tafsir berbasis rasio yang dipraktekkan dalam tradisi tafsir. Di sini kita dapat menyaksikan pertalian antara pendekatan bahasa dengan rasio. Tidak heran jika, secara tradisional, penafsiran kebahasaan (seperti Tafsir Jalalain) tercakup pula dalam kategori tafsir bi ar ra’yi.[7]

Pendekatan rasio kadang juga sering dihubungkan dengan kecenderungan untuk menghubungkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan atau menjelaskan hal-hal gaib yang tidak bisa dinalar dengan cara tertentu sehingga tidak bertentangan dengan sains modern. Muhammad Abduh memaknai batu-batu dari Sijjil yang dibawa oleh burung-burung Ababil sebagai mikrobia atau virus pembawa penyakit.[8]

  1. Pendekatan Tradisi/riwayah.

Riwayat, khususnya hadits Nabi saw, memiliki peranan penting dalam tafsir tradisional. Riwayat dari Rasulullah saw berperan dalam menjelaskan makna Al-Qur’an yang global, mengkhususkan hal yang umum, membatasi hal yang mutlak. Riwayat juga menjadi sumber informasi tentang kondisi spesifik yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an (sababun nuzul) yang penting dalam memahami lingkup masalah yang dicakup oleh suatu ayat.[9] Pengetahuan tentang ayat-ayat yang mansukh tak lepas pula dari peranan riwayat dalam penafsiran Al-Qur’an.

Para ahli tafsir klasik juga memakai penjelasan yang bersumber dari para sahabat dan sebagian tabi’in,[10] sekalipun mereka sadar, besar kemungkinan apa yang diriwayatkan itu merupakan ijtihad (ra’yu) sejauh bukan merupakan ijma’ mereka. Tidak mengherankan jika di antara mereka yang dinukil penafsirannya itu sering muncul perbedaan pendapat. Ath Thabari sendiri, selaku penyusun kitab tafsir bil ma’tsur paling masyhur, sering mengaktifkan ra’yu-nya dalam mentarjih satu pendpat yang dianggapnya benar, seperti saat membahas makna “kursiy”, dengan memperhatikan kesesuaiannya dengan kalimat-kalimat sebelumnya, dan dengan menghadirkan ungkapan-ungkapan orang Arab, Ath-Thabari lebih memaknainya dalam arti pengetahuan (‘ilmu) yang didasarkan pula pada salah satu riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra.[11]

  1. Pendekatan mistik/simbolis.

Seorang mufasir yang mendekati Al-Qur’an secara mistis melihat ayat-ayat Al-Qur’an sebagai simbol atau isyarat, merujuk pada perkara yang melampaui makna kebahasaannya. Dengan kata lain, menurut para pengguna pendekatan ini, Al-Qur’an memiliki dua tingkat makna, yakni makna lahir dan makna batin.[12] Makna lahir Al-Qur’an adalah makna kebahasaan yang dibahas oleh para mufasir pada umumnya, sedangkan makna batin adalah pesan tersembunyi di balik kata-kata. Makna ini hanya bisa ditangkap melalui penyingkapan (kasyf) yang dialami oleh mereka yang melakukan latihan mental sampai tingkat tertentu hingga Allah memberinya pengetahuan iluminatif.[13] Contoh prakteknya, terkait dengan firman Allah <<إنّ أول بيت وضع للناس>>, menurut Sahl Al Tustari, makna lahir dari awwala bait adalah bangunan pertama yang didirikan untuk beribadah, yakni Ka’bah. Sedangkan makna batinnya adalah: Rasulullah saw. Akan beriman kepada beliau siapa saja yang Allah telah menetapkan tauhid di dalam hatinya. Adapun kecenderungan teoritis dalam tafsir-tafsir kaum sufi, seperti gagasan panteistik, itu termasuk ra’yu.

  1. Pendekatan Kontekstual.

Pendekatan ini didasarkan pada pandangan bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an diturunkan untuk menjawab persoalan-persoalan spesifik yang dihadapi oleh Nabi saw dan para sahabat ra di lingkungan mereka dan pada waktu hidup mereka. Terdapat jarak waktu yang sangat jauh antara masa itu dengan hari ini. Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia sudah jauh berbeda, corak kehidupan manusia pun sudah tidak lagi sama. Oleh karenanya, aturan-aturan hukum yang secara literal ada di dalam Al-Qur’an dianggap terikat dalam konteks tertentu, tidak bisa diaplikasikan lepas dari konteksnya. Padahal sebagai wahyu terakhir, Al-Qur’an harus senantiasa shalih likulli zamanin wa makan. Untuk itu, pendekatan ini memandang bahwa petunjuk Al-Qur’an tidak boleh dicari di dalam teks. Harus ada usaha untuk memahami konteks sejarah saat mana Al-Qur’an itu diturunkan, baik keadaan sosial, politik, ekonomi, budayanya, dll. Persoalan spesifik yang ingin dipecahkan oleh tiap-tiap hukum dalam Al-Qur’an pada konteks tersebut juga harus dipahami; alasan pemberlakuan hukum (rasio legis) Al-Qur’an atas suatu kasus harus ditangkap, selanjutnya alasan tersebut digeneralisasikan dalam bentuk tujuan-tujuan moral-sosial umum yang kohenren dengan pesan Al-Qur’an secara utuh. Tujuan moral-sosial umum itulah yang kemudian dibawa ke masa kini untuk dituangkan dalam rumusan yang sesuai dengan keadaan zaman.[14] Abdullah Saeed menyebutnya sebagai pendekatan kontekstual, dan menambahkan perlunya “konteks penghubung”, yakni mempelajari bagaimana generasi sebelumnya mengembangkan tradisi tafsir dalam konteks kesejarahan yang membentang antara hari ini dan masa turunnya Al-Qur’an.[15]

Uraian di atas memperlihatkan bahwa pendekatan kontekstual mengasumsikan adanya nilai-nilai kebajikan yang secara independen eksis dengan sendirinya, tidak semata ditentukan oleh keputusan hukum secara arbitrer, justru hukum Islam bertumpu di atas nilai-nilai yang sudah ada itu. Nilai-nilai tersebut dapat dipahami dan ditemukan secara rasional, sehingga pesan sejati Al-Qur’an pun akhirnya dapat dipahami dalam konteks umum merealisasikan nilai-nilai tersebut. Tak heran jika apa yang biasa disebut nilai-nilai moral-sosial umum itu pun ternyata juga diakui oleh masyarakat yang tidak pernah membaca Al-Qur’an sekali pun.[16] Dalam pendekatan ini, fungsi teks-teks Al-Qur’an yang dikemas dalam huruf dan Bahasa Arab itu tidak lain sebagai sarana kegiatan ritual/ibadah, adapun petunjuk kehidupan, tidak terpaku pada teks.

  1. Metode Penyusunan Literatur Tafsir

Kata metode berasal dari bahasa yunani “methodos” yang berarti “cara atau jalan”. Dalam bahasa Inggris kata ini ditulis “method” dan bahasa Arab menerjemahkannya dengan “thariqat” dan “manhaj”. Dan dalam pemakaian bahasa indonesia kata tersebut mengandung arti: “cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”.[17]

Kata tafsir berasal dari bahasa Arab, yaitu fassaara, yufassiru, tafsiran yang berarti penjelasan, pemahaman, dan perincian. Selain itu, tafsir dapat pula berarti al idlah wa altabiyin, yaitu penjelasan dan keterangan. Menurut Imam al-Zarqhoni mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan al-Quran baik dari segi pemahaman makna atau arti sesuai yang dikehendaki Allah Swt menurut kadar kesanggupan manusia. Selanjutnya Abu Hayan, sebagaimana dikutip al-Sayuthi, mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai cara mengucapkan lafal-lafal al-Quran disertai makna serta hukum-hukum yang terkandung didalamnya.[18] Namun tafsir juga bermakna produk tafsir, atau literatur tafsir.[19] Maka metode tafsir adalah cara yang ditempuh untuk melakukan menyusun karya tafsir.

  1. Tafsir Tahlili

Kata tahlili berasal dari bahasa arab halalla-yuhalillu-tahlilan yang berarti mengurai atau menganalisa. Dengan metode ini, seorang mufassir akan mengungkap makna setiap kata dan susunan kata secara rinci dalam setiap ayat yang dilaluinya dalam rangka memahami ayat tersebut dalam secara koheren dengan rangkaian ayat di sekitarnya tanpa beralih pada ayat-ayat lain yang berkaitan dengannya kecuali sebatas untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap ayat tersebut. Dalam metode ini, penafsir akan memaparkan penjelasan menggunakan pendekatan dan kecenderungan yang sesuai dengan pendapat yang dia adopsi.[20] Pendekatan yang digunakan bisa pendekatan bahasa, rasio, riwayat maupun isyarat. Contoh literatur tafsir yang disusun dengan metode ini antara lain: Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnu Katsir,

  1. Tafsir Ijmali

Mufassir menyebutkan rangkaian ayat Al-Qur’an yang panjang, atau sekelompok ayat Al-Qur’an yang pendek, kemudian menyebutkan maknanya secara umum tanpa panjang lebar maupun terlalu singkat. Dalam hal ini, dia berusaha untuk mengaitkan antara teks Al-Qur’an dengan makna, yaitu mengutarakan makna tersebut dengan sesekali menyebutkan teks Al-Qur’an yang berkaitan dengan makna-makna itu secara jelas. Di antara kitab tafsir yang disusun dengan cara seperti ini adalah: Tafsir Al Qur’an Al Karim karya Farid Wajdi. Pada masa sekarang, tafsir model ini sering dilontarkan oleh para qari’ sebagai pembuka sebelum membacakan ayat-ayat Al-qur’an lewat siaran radio dapat memahami apa yang dibacakan.[21]

  1. Tafsir Muqarin

Menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an disertai perbandingan dengan apa yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir yang lain. Dengan metode ini, seorang mufassir akan fokus pada ayat-ayat tertentu atau ayat-ayat pada tema tertentu, kemudian menelaah pandangan-pandangan para mufassir baik dari kalangan salaf maupun khalaf, dengan berbagai metode dan kecenderungan mereka yang berbeda-beda. Termasuk metode ini adalah apabila seorang mufassir membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ayat-ayat lain, atau ayat-ayat dalam satu tema kemudian dibandingkan dengan hadits, atau membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kitab-kitab suci agama lain.[22]

  1. Tafsir Maudhu’i

Metode Tafsir Maidhu’i dilakukan dengan memilih salah satu tema yang dikandung oleh Al-Qur’an Al Karim, kemudian mengumpulkan ayat-ayat dan surat yang berkaitan dengan tema tersebut layaknya menghimpun bagian-bagian badan yang terpisah, kemudian mengikatnya satu sama lain, dengan itu terbentuklah gambaran tema secara utuh sehingga ayat-ayat Al-qur’an akan saling menafsirkan satu sama lain.[23]

 

  1. Corak-corak Kecenderungan Kitab Tafsir

Menurut Imam al-Zarqhoni mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan al-Quran baik dari segi pemahaman makna atau arti sesuai yang dikehendaki Allah Swt menurut kadar kesanggupan manusia.[24] Meski demikiran, terdapat kitab-kitab tafsir yang melangkah lebih jauh, tidak berhenti pada mengungkap pengertian ayat secara sederhana melainkan juga fokus membahas cabang-cabang ilmu lain yang terkait dengan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga memberi corak tersendiri terhadap literatur tafsir tersebut. Ada banyak corak kecenderungan tafsir, antara lain:

  1. Tafsir bercorak fiqih

Literatur tafsir bercorak fiqih adalah buku-buku tafsir yang diperkaya dengan berbagai pembahasan fiqih secara luas dan mendalam, seringkali diiringi dengan nuansa pembelaan terhadap mazhab fiqih tertentu. Contohnya antara lain Ahkamul Qur’an karya Al Jashash (Hanafi), Ahkamul Qur’an karya Ibnul ‘Arabi (Maliki), dll.[25]

  1. Tafsir bercorak kalam dan filsafat

yaitu penafsiran al Quran dengan menggunakan teori-teori filsafat. Contoh kitab tafsir falsafi adalah kitab Mafatih al-Ghayb karya Fakhr al-Din al-Razi. Dalam kitab tersebut ia menempuh cara ahli filsafat dalam mengemukakan dalil-dalil secara utuh yang didasarkan pada ilmu kalam dan semantik (logika). Ia juga membeberkan ide-ide filsafat yang dipandang bertentangan dengan agama, khususnya dengan al Quran, dan akhirnya ia dengan tegas menolak filsafat berdasar alasan dan dalil yang ia anggap memadai.[26]

  1. Tafsir bercorak sosial

Tafsir yang mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan berbagai problem kamasyarakatan yang muncul, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dll. Di antara tafsir yang memiliki nuansa sosial yang kuat adalah karya sayyid Quthb, Fii Dzilalil Qur’an dan penafsiran-penafsiran Abduh dalam Al Manar.[27]

  1. Tafsir bercorak sastra-kebahasaan

Karya tafsir yang banyak mengungkap keagungan bahasa Al-Qur’an dengan mengungkapkan sisi balaghah al Quran dan kemukjizatannya. Tafsir Al-Kasysyaf karya Az Zamakhsyari, al Bahrul Muhith karya Abu Hayyan, Tafsir karya As-Sma’ani merupakan contoh literatur tafsir yang kental dengan kecenderungan ini.[28]

  1. Tafsir bercorak ilmiah

Karya tafsir yang bercorak ilmiah dilandasi oleh asumsi bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang memberi isyarat kepada berbagai ilmu pengetahuan modern. Penafsiran mereka seringkali tidak didukung oleh bukti-bukti kebahasaan, konteks ayat, dan karakter ilmu pengetahuan yang selalu berubah. Di antara tafsir dengan kecenderungan ilmiah adalah Al Jawahir fi Tafsir al qur’an al Karim karya Thanthawi Jauhari.[29]

  1. Tafsir bercorak mistik

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, para mutashawwif memiliki pendekatan tersendiri dalam menafsirkan Al-Qur’an. Pendekatan khusus tersebut tentu saja memunculkan corak tafsir tersendiri yang dipenuhi teori-teori tashawuf falsafi atau pemaknaan-pemaknaan isoteris terhadap lafadz-lafadz Al-Qur’an. Di antara kitab tafsir sufi adalah kitab: Tafsir al Quran al-’Adhim, karya Imam al-Tusturi.[30]

BAB III

Kesimpulan

Pendekatan tafsir merupakan cara yang ditempuh oleh mufassir untuk mengungkap makna-makna Al-Qur’an, yang antara lain adalah pendekatan bahasa, rasio, riwayat, mistik dan kontekstual. Metode penyusunan tafsir merupakan cara yang digunakan penafsir untuk menyusun karyanya, antara lain ijmali, tahlili, muqarin dan maudhu’i. Di samping itu juga ada ragam corak kecenderungan tafsir, seperti tafsir fiqhi, kalami, ilmi. dll

[1] Abdullah Saeed, Al-qur’an Abad 21 Tafsir Kontekstual (Bandung: Mizan, 2016), h. 30

[2] Manna Khalil al-Qatttan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an (Jakarta: Litera AntarNusa, 2001), h. 495

[3] Yunus Hasan Abidu, Tafsir Al-Qur’an (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), h. 168

[4] Al-‘Utsaimin, Syarh Muqaddimah Ushul At-tafsir (Riyad: Darul Minhaj, 1432 H), h. 159

[5] Atha’ bin Khalil, At Taisir fi Ushul at tafsir (Beirut: Dar al Ummah, 2006), h. 32

[6] As-Suyuthi, Al-Itqan fii ‘Ulumil Qur’an (Beirut: Dar al Fikr, 2008), h. 306

[7] Muhammad Husain Adz Dzahabi, ‘Ilm at Tafsir (ttp: Dar Al-Ma’arif, tt), h. 67; Al ‘Utsaimin, Syarh Muqaddimah Ushul At-tafsir (Riyad: Darul Minhaj, 1432 H), hal. 160

[8] Abdul Majid Abdus Salam Al Muhtasib, Ittijahat at Tafsir fi al Ashr ar rahin (Aman: Maktabah An Nahdhah Al Islamiyah, 1982), h.  267

[9] Muhammad Ali Al-Hasan, Pegantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2007), h. 57

[10] Ibnu Taimiyah, Muqaddimah fi Ushulit tafsir dalam Al-‘Utsaimin, Syarh Muqaddimah, h. 156.

[11] Muhammad bin Jarir Ath Thabari, Tafsir Ath Thabari, vol IV, (Giza: Dar Hijr, 2001), h. 540

[12] Muhammad Husain Adz-Dzahabi, ‘Ilm at Tafir (ttp: Dar al-Ma’arif, tt), h. 72

[13] Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Penyimpangan-penyimpangan dalam Penafsiran Al-Qur’an (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1993), h. 92

[14] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas (Bandung: Pustaka, 1982), h. 7

[15] Abdullah Saeed, Al-Qur’an Abad 21, h. 15

[16] Masalah apakah pahala dan siksa dalam Islam didasarkan pada nilai-nilai yang eksis secara independen dan terjangkau akal ataukah justru bertumpu pada keputusan yang dihadirkan secara legal oleh Syara’, itu telah diperdebatkan oleh Mu’tazilah dan lawan-lawannya. Lihat polemik masalah hasan-qabih dalam: Al-Ghazali, Al Mushtashfa fi Ushul al-fiqh (Beirut: dar al Kutub al ‘Ilmiyah, 2008), h. 75-

[17] Nasaruddin Baidan, Metode Penafsiran Al-Quran, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 54.

[18] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011),  h. 209-211.

[19] Abdul Mustaqim, epistemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta: LkiS, 2011), h. 30

[20] Samir Abdur rahman Rasywani. Manhaj at Tafsir Al Maudhu’i lil Qur’an al Karim Dirasah Naqdiyah (Alepo: dar al Multaqa, 2009), h. 48-49

[21] Wajih Al Mursi, http://kenanaonline.com/users/wageehelmorssi/posts/268193, diakses pada tanggal 18 oktober 2016

[22] [22] Samir Abdur rahman Rasywani. Manhaj at Tafsir Al Maudhu’i lil Qur’an al Karim, h. 50

[23] Ibid., h. 40

[24] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011),  h. 209

[25] Hasan Hanafi, Metode Tafsir dan Kemaslahatan Umat (Yogyakarta: Nawesea, 2007), h. 20

[26] Hasan Hanafi, Metode Tafsir dan Kemaslahatan Umat, h. 33

[27] Ibid., h. 45

[28] Al ‘Utsaimin, Syarh Muqaddimah Ushul At-tafsir, h. 174

[29] Rotraud Wielandt, Tafsir Al-qur’an, Masa Awal, Modern dan Kontemporer. J. Tashwirul Afkar. 18. 2004. H. 70

[30] Muhammad Husain Adz-Dzahabi, ‘Ilm at Tafir (ttp: Dar al-Ma’arif, tt), h. 70

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s