Objek Material dan Objek Formal Filsafat Ilmu

PENDAHULUAN

Latar belakang

Manusia merupakan sebaik-baik ciptaan Sang Pencipta, sehingga menempati posisi tertinggi, sempurna, dan istimewa diantara mahluk lainnya, karena ia dikenal sebagai makhluk berfikir. Mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, yang indah dan yang jelek. Secara terus menerus manusia dihadapkan berbagai pilihan. Dalam melakukan pilihan ini tentunya manusia berpegang pada suatu pengetahuan, sebab tanpa pengetahuan jelas pasti ia akan jatuh tersesat menentukan pilihannya.
Walaupun demikian adanya, terkadang sebagian manusia begitu sulit untuk mengungkapkan informasi, pengetahuan dan apa saja yang ingin dikomunikasikannya. Hal ini salah satunya dikarenakan tidak tersistematisnya kerangka fikir, dan Kerangka fikir akan tersistematis ketika ada asal masalah, atau obyek secara jelas. Sama halnya ilmu pengetahuan, seseorang akan memperolehnya jika ada aktifitas berfikir yang diiringi dengan cara menelaah, menganalisa secara kritis suatu objek. Dari sini dapat dipahami, obyek menjadi syarat mutlak suatu ilmu. Karena obyek inilah yang menentukan langkah-langkah lebih lanjut dalam kajian khazanah ilmu pengetahuan itu. Dan setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek, baik objek yang bersifat materiil maupun formal. Memang pada hakikatnya berfilsafat bukanlah sesuatu yang asing dan terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada serta dapat difikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan, difikirkan secara kritis, dan radikal guna mencapai kebenaran. Supaya topik pembahasan tetap searah, senada dengan temanya, maka secara spesifik rumusan masalah diformulasikan sebagai berikut:
Apa pengertian objek filsafat? Dan dibagi atas berapakah objek kajiannya?
Bagaimanakah tujuan dan implikasi objek materiil dan formal terhadap ilmu pengetahuan?

Pembahasan

Pengertian dan pembagian objek filsafat
Sebagaimana yang dijelaskan A. Susanto, bahwa Isi filsafat ditentukan oleh objek yang dipikirkan. Objek adalah sesuatu yang menjadi bahan kajian dari suatu penelaahan atau penelitian tentang pengetahuan. Objek yang difikirkan oleh filosof adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Dan setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek, baik yang bersifat materiil maupun formal. Atau dengan kata lain, objek adalah sasaran pokok atau tujuan penyelidikan keilmuan, baik objek materiil maupun objek formal. Burhanuddin Salam mengutip pernyataan DR. Oemar Amin Hoesin tentang objek material filsafat sebagai berikut:
“Oleh karena manusia mempunyai pikiran atau akal yang aktif  maka ia mempunyai kecenderungan hendak berpikir tentang sesuatu dalam alam semesta, terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada. Objek tersebut di atas itu adalah menjadi objek material filsafat.”

Objek materiil
Objek materiil ini adalah suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian keilmuan. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Objek materiil filsafat ini mencakup segala hal, baik yang konkret atau abstrak. Menurut Poedjawijatna (1980: 80), objek materiil filsafat meliputi segala sesuatu dari keseluruhan ilmu yang menyelidiki sesuatu. Senada dengan pendapatnya Poedjawijatna, Mohammad Noor (1981: 12) bahwa objek filsafat itu dibedakan atas objek materiil dan nonmateriil. Objek materiil mencakup segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik materiil konkret, fisik. Sedangkan objek nonmateriil meliputi hal-hal yang abstrak, dan psikis, termasuk juga abstrak logis, konsepsional, spiritual, nilai-nilai dan lain-lain. Jadi, dengan melihat dari beberapa pendapat mengenai objek filsafat ini dapat dipahami bahwa objek filsafat meliputi berbagai hal, dengan kata lain, objek filsafat materiil ini tak terbatas, Objek filsafat ini tak terbatas, yang dalam pandangan Louis O. Katsoo dalam Burhanudin salam (1988;39 ) bahwa lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia. Baik hal-hal yang fisik atau tampak maupun yang psikis atau yang tidak tampak. Hal-hal yang fisik adalah segala sesuatu yang ada baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Sedangkan hal-hal yang psikis atau nonfisik adalah masalah Tuhan, kepercayaan, norma-norma, nilai, keyakinan,dan lainnya.
Suatu objek materiil, baik yang materiil dan lebih-lebih yang nonmateriil sebenarnya merupakan suatu substansi yang tidak begitu mudah untuk diketahui. Karena didalamnya terkandung segi-segi kuantitatif berganda, berjenis-jenis dan kualitatif bertingkat-tingkat dari yang konkret ke tingkat abstrak. Sebagai contoh objek materiilnya adalah ‘manusia’, dari segi kuantitatif meliputi banyak jenis menurut ras, suku, ciri khas, dan individualitasnya yang selanjutnya menjadi kompleks dalam setiap perilaku hidupnya. Contoh tersebut menunjukkan bahwa objek materiil memiliki segi yang jumlahnya tak terhitung. Sedangkan kemampuan akal fikir manusia bersifat terbatas. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar, dan pasti mengenai suatu objek maka perlu dilakukan pembatasan-pembatasan jenis objek, dan selanjutnya titik pandang artinya dari segi mana objek materiil itu diselidiki.

Objek formal
Objek formal yaitu sifat penelitian, penyelidikan yang mendalam. Kata mendalam berarti ingin tahu tentang objek yang tidak empiris. Menurut Lasiyo dan Yuwono (1985:6), objek formal adalah sudut pandang yang menyeluruh, umum, sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materiilnya. Jadi objek formal filsafat ini membahas objek materiilnya sampai ke hakikat atau esensi dari yang dibahasnya. Objek formal merupakan sudut pandang atau cara memandang terhadap objek materiil, termasuk prinsip-prinsip yang digunakan, dalam artian objek formal filsafat bersifat mengasaskan atau berprinsip maka filsafat itu mengonstatir prinsip-prinsip kebenaran dan ketidak-benaran.
Melihat objek ilmu tersebut, maka keberadaan filsafat sesungguhnya sudah dekat dengan kita, bahkan setiap saat kita terlibat dalam tindakan berfilsafat iu sendiri, hanya saja selama ini keberadaannya belum kita sadari. Peran objek formal hanya menjelaskan pentingnya arti, posisi dan fungsi objek di dalam imu penegetahuan. Selanjutnya, ia menentukan jenis ilmu pengetahuan yang tergolong studi ilmu apa, dan tergolong sifat ilmu yang kualitatif ataukah kuantitatif. Hal ini berarti bahwa dengan objek formal ruang lingkup ilmu pengetahuan bisa ditentukan.
Penjelasan diatas, dapat dianalisa dan dijelaskan tentang perbedaan antara objek material dan objek formal filsafat ilmu. Pertama, Objek material filsafat merupakan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkret ataupun yang abstrak.  Sedangkan Objek formal filsafat ilmu tidak terbatas pada apa yang mampu diindrawi saja, melainkan seluruh hakikat sesuatu baik yang nyata maupun yang abstrak. Kedua, Obyek material filsafat ilmu itu bersifat universal, yaitu segala sesuatu yang ada dan realistis, sedangkan objek formal filsafat ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. Objek material mempelajari secara langsung pekerjaan akal dan mengevaluasi hasil-hasil dari objek formal ilmu itu dan mengujinya dengan realisasi praktis yang sebenarnya.  Sedangkan Obyek formal filsafat ilmu menyelidiki segala sesuatu itu guna mengerti sedalam dalamnya, atau mengerti obyek material itu secara hakiki, mengerti kodrat segala sesuatu itu secara mendalam. Obyek formal inilah sudut pandangan yang membedakan watak filsafat dengan pengetahuan, karena filsafat berusaha memahami sesuatu se-dalam dalamnya. Selanjutnya mempunyai kedudukan dan peran yang mutlak dalam menentukan suatu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan, kemudian, ia menentukan jenis ilmu pengetahuan yang tergolong bidang studi apa, dan sifat ilmu pengetahuan yang tergolong kualitatif dan kuantitatif.
Jadi, objek formal filsafat ilmu adalah esensi ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan seperti: apa hakikat ilmu itu sesungguhnya? Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Apa fungsi ilmu pengetahuan itu bagi manusia? Problem-problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan, yakni landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Selanjutnya pendalaman analisa, terkait persoalan mendasar mengenai objek formal yang menjadi esensi daripada ilmu pengetahuan, sekaligus memiliki peran yang mutlak dalam menentukan suatu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan, akan tetapi tanpa tanpa adanya objek material tidak akan pula ada sumber pengetahuan. Hal ini memberikan pernyataan, dan pemahaman bahwa objek material dan objek formal merupakan satu-kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisahkan dalam bingkai aspek kefilsafatan. Sebagaimana pesan spirit berupa kalam Sang Pencipta yang menjadi pedoman dasar utama umat Islam, dan motivasi kefilsafatan. Yaitu Q.S: al-Imran ayat 190-191, artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari siksa api neraka”
Pesan teks berupa kalam Ilāhī diatas mencerminkan berpikir kritis terhadap informasiNya, berusaha memahaminya dari berbagai sumber, menganalisis, dan merenungi kandungannya. Karena memang salah satu mukjizat al-Qur’an adalah menantang para pembacanya untuk merenungkan informasi Ilāhī tersebut. Kemudian menindaklanjuti dengan sikap dan tindakan positif. Lalu apakah orientasi, tujuan maupun implikasinya dari semua ini?

Tujuan dan Implikasi Filsafat Ilmu

Tujuan Filsafat Ilmu
Prof. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya “Pembimbing ke Filsafat” sebagai berikut:
“Bagi manusia seorang berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya seinsyaf-insyafnya sesentral-sentralnya dengan perasaan bertanggungjawab.”
Sedangkan Dr. Oemar A. Hoesin mengatakan bahwa filsafat itu memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.
Maka, secara umum tujuan filsafat ilmu adalah:
Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah.
Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan.
Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.

Implikasi Filsafat Ilmu

Bagi seseorang yang mempelajari filsafat ilmu di perlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya para ilmuan memiliki landasan berpijak yang kuat. Ini berarti ilmuan sosial perlu mempelajari ilmu-ilmu kealaman secara garis besar, demikian pula seorang ahli ilmu kealaman perlu memahami dan mengetahui secara garis besar tentang ilmu sosial. Sehingga antara ilmu yang satu antara lainnya saling menyapa, bahkan dimungkinkan terjalinnya kerja sama yang harmonis memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.
Menyadarkan seorang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading”. Menara gading adalah suatu ungkapan simbolik, dalam bahasa Inggris disebut ivory tower, yang bermakna tempat atau situasi yang terasing dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Dapat pula berarti sikap acuh tak acuh, tidak mau perduli, yang mengambil jarak ataupun menutup diri dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Maksudnya, hanya berpikir murni dalam bidangnya mengaitkannya dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Padahal setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat di lepaskan dari kontesk kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Kesimpulan

filsafat ilmu adalah keinginan untuk memiiki pengetahuan yang luhur / secara mendalam tentang suatu ilmu yang meliputi sejarah perkembangan ilmu, sifat dasar ilmu pengetahuan, metode ilmiah, praanggapan-praanggapan ilmiah dan sikap etis dalam pengembangan ilmu. Objek material atau pokok bahasan filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan.
Secara umum, tujuan filsafat ilmu adalah untuk sarana pengujian penalaran ilmiah, merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan, dan memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Sedangkan implikasi dari filsafat ilmu sendiri adalah bagi seseorang yang mempelajari filsafat ilmu di perlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya para ilmuan memiliki landasan berpijak yang kuat serta menyadarkan seorang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading”, yaitu sikap acuh tak acuh, tidak mau perduli, yang mengambil jarak ataupun menutup diri dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Susanto,A. Filsafat Ilmu. Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Akseologis. Cet. 2, Jakarta, Bumi Aksara, 2011
Salam,Burhanuddin. Pengantar Filsafat. Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2005
Ihsan,H.A.Fuad. Filsafat Ilmu. Jakarta, Rineka Cipta, 2010. cet.1
Munir,Rizal Muntasyir Misnal. Filsafat Ilmu. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s