Terjemahan Al-Qur’an KArya H.B. Jassin

 

Terjemah Al-Qur’an Karya H.B. Jassin

 

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Al-Qur’an hadir dengan gaya pengungkapan yang menakjubkan. Kekuatan bahasa tersebut menjadi modal bagi Al-Qur’an untuk membuktikan keotentikannya sebagai Kalamullah seraya menggemakan tantangan kepada Bangsa Arab dari dalam rumah mereka sendiri, “datangkanlah satu surat yang semisalnya”. Makna ayat-ayat Al-Qur’an memang universal, tetapi nilai mu’jizat yang dihadirkan oleh gaya bahasanya tidak mungkin dapat direproduksi ketika diparafrasekan, meski menggunakan Bahasa Arab yang paling baik sakalipun, apalagi menggunakan bahasa lain. Kendati demikian, dalam usaha mempedomani kandungan Al-Qur’an, mengenalkan makna-makna Al-Qur’an kepada masyarakat yang tidak berbahasa Arab merupakan kebutuhan. Terjemahan Al-Qur’an dinilai sebagai langkah praktis untuk menjembatani kearaban Al-Qur’an dengan kebutuhan kaum muslimin non-Arab untuk memahami dan mengamalkan ajarannya.

Sejumlah terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia telah lahir pada abad XX, baik semata-mata terjemahan maupun bersama tafsinya. Seluruh terjemahan yang ada menitikberatkan pada usaha untuk mengindonesiakan makna-makna Al-Qur’an. Terjemahan Al-Qur’an karya H.B. Jassin memberi warna baru dalam sejarah terjemahan Al-Qur’an di Indonesia. Terjemahannya itu tidak hanya mengalihbahasakan Al-Qur’an, namun juga mengemasnya dalam bahasa yang puitis. Bacaan Mulia merupakan kata yang dipilih oleh H.B. Jassin untuk menamai karyanya itu, merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Waqi’ah ayat 77.

Sebagai sebuah terobosan baru dan terjemahan Al-Qur’an yang digarap oleh seorang kritikus sastra yang tidak mengenyam pendidikan keIslaman secara mapan, menuai reaksi istimewa. Menteri Agama RI pada waktu itu menerima beberapa surat yang melaporkan sejumlah kesalahan di dalam karya tersebut. Pro dan kontra juga meluap ke media massa. Terjemahan Al-Qur’an tidak mungkin suci dari kelemahan. Kesalahan dan perbedaan pendapat di dalamnya merupakan hal yang tidak mungkin sepenuhnya dihindari. Mengharapkan sebuah karya terjemahan yang dapat mewakili Al-Qur’an secara sempurna dengan tetap mempertahankan makna dan fungsinya secara utuh merupakan hal yang mustahil diwujudkan.[1] Bahasa non-Arab,  ketika digunakan untuk mengungkapkan makna-makna Al-Qur’an, paling jauh hanya dapat menyajikan pemahaman subjektif penerjemah.[2]Tidak seorang pun yang sanggup menerjemahkan Al-Qur’an yang Kalam Ilahi, hanya yang pernah orang kerjakan, terjemahan maksud semata-mata menurut pemahaman orang atau kelompok yang mengerjakannya”, ungkap Prof. A. Hasjmy.[3]

Terbitnya terjemahan Al-Qur’an Al Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin, dengan segenap inovasi di dalamnya dan kontroversi yang membuntutinya, bagaimana pun telah memberikan getaran tersendiri dalam sejarah penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia. Ide segar yang ditawarkannya, berupa terjemahan yang indah, patut mendapat sorotan.

Rumusan Masalah

  1. Latar belakang penulisan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  2. Metode penerjemahan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  3. Jenis terjemahan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  4. Keunikan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  5. Tanggapan publik atas terbitnya Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia

Tujuan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui:

  1. Latar belakang penulisan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  2. Metode penerjemahan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  3. Jenis terjemahan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  4. Keunikan Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia
  5. Tanggapan publik atas terbitnya Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia

 

BAB II

Pembahasan

Al-Qur’an dan Terjemahannya

Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang lafadznya merupakan mu’jizat, membacanya merupakan ibadah dan ditransmisikan secara mutawatir.[4] Az-Zarqani mencatat, Al-Qur’an turun dengan membawa tiga fungsi: pertama, sebagai petunjuk bagi manusia; kedua, sebagai mu’jizat yang menguatkan kenabian Muhammad saw; dan ketiga,dibaca sebagai bentuk peribadatan kepada Allah SWT.[5]

Terjemahan Al-Qur’an

Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni mendefinisikan terjemah Al-Qur’an sebagai usaha untuk mengkonversikan Al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa selain Arab. Beliau kemudian membagi terjemahan Al-Qur’an ke dalam dua jenis, yakni terjemahan harfiyah dan terjemahan tafsiriyah. Terjemahan harfiyah dilakukan dengan menerjemahkan lafadz-lafadz, kosa kata, kalimat-kalimat dan susunan kata Al-Qur’an sesuai dengan bahasa aslinya ke bahasa lain. Terjemahan tafsiriyah adalah bentuk terjemahan dimana sang penerjemah hanya mengacu pada teks asal untuk memahaminya, kemudian pemahaman tersebut dia tuangkan dalam bahasa lain sehingga maknanya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh teks asli tanpa bersusah-payah untuk menelaah dan meneliti tiap-tiap kosakata maupun lafadz agar cocok dengak dengan teks aslinya. Terjemah tafsiriyah juga dinamakan terjemah maknawiyah, begitu menurut Ash-Shabuni.[6]

Manna’ Al-Qaththan justru menggunakan istilah terjemah tafsiriyah untuk jenis terjemahan tersendiri yang berbeda dengan terjemahan maknawiyah. Mengenai terjemah tafsiriyah, Al-Qaththan mengatakan, “Apabila ulama Islam menafsirkan Al-Qur’an dengan cara mendatangkan makna yang dekat, mudah dan lebih kuat, kemudian penafsiran itu diterjemahkan dengan penuh kejujuran dan kecermatan, maka cara ini dinamakan terjemah tafsir Al-Qur’an atau terjemah tafsiriyah.” Beliau membedakan terjemah tafsiriyah dengan maknawiyah,   “corak terjemahan ini (tafsiriyah) berbeda dengan terjemahan maknawiyah sekalipun para peneliti tidak membedakan keduanya.“ Jika penafsir seolah mengatakan, “Ini adalah apa yang saya pahami dari ayat tersebut”, maka penerjemah seakan-akan mengatakan, “ini adalah makna dari ayat itu sendiri.”[7] Karena itu, Az-Zarqani tidak mau memasukkan apa yang disebut oleh Al-Qaththan sebagai terjemah tafsiriyah ini ke dalam kategori terjemah dalam pengertian konvensionalnya. Az-Zarqani justru menyebutnya sebagai tafsir Al-Qur’an menggunakan bahasa non-Arab (tafsirul Qur’an bilughatin ajnabiyyah).[8]

Al Qur’an Al Karim Bacaan Mulia

Penerjemah

Hans Baque Jassin merupakan tokoh besar dalam dunia sastra Indonesia. Beliau lahir di Gorontalo pada 31 Juli 1917. Menamatkan pendidikan dari di H.I.S Gorontalo tahun 1932, H.B.S-B di Medan tamat tahun 1939, studi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sampai 1959) dan memperdalam Ilmu Perbandingan Kesusastraan di Universitas Yale (sampai tahun 1958-1959). Jassin pernah bekerja di Kantor Asisten Residen Gorontalo, pernah bekerja di Balai Pustaka (1940-1947) dan bekerja pada Lembaga Bahasa dan Budaya (1953-1973). Pada tahun 1975, beliau mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia.[9]

Latar belakang

Menurut Hamka, hal yang melatarbelakangi niat H.B. Jassin untuk menerjemahkan Al-Qur’an dengan cita-rasa sastrawi adalah kenyataan bahwa terjemahan-terjemahan Al-Qur’an yang ada saat itu tidak ditulis oleh ulama-ulama yang mendalami perkembangan Bahasa Indonesia. Bahasa mereka sering terasa kaku, kadang-kadang terlalu terpengaruh oleh susunan Bahasa Arab, bahkan sulit dimengerti susunan katanya oleh para pembaca yang memahami Bahasa Indonesia. Di sisi lain, Jassin membaca terjemahan Al-Qur’an berbahasa Inggris, “The Glorius kor’an” karya Marmaduke Picktall, yang memiliki gaya bahasa yang indah dan enak dibaca.

Metode Penerjemahan

H.B. Jassin menggunakan mushaf Al-Qur’an berbahasa Arab sebagai sumber utama dalam karya terjemahannya Beliau menggunakan berbagai kamus Bahasa Arab untuk membantu terjemahan. Kamus-kamus yang beliau gunakan antara lain adalah Arabic-English Dictionary karya J.G. Hava S.J.; An Advanced Learner’s Arabic-English Dictionary karya H. Anthony Salmone dan A Dictionay and Glossary of the Koran karya John Penrice

Untuk memastika keakuratan terjemahan, H.B. Jassin memanfaatkan terjemahan-terjemahan Al-Qur’an lain dari berbagai bahasa. H.B. Jassin menyatakan, sebagaimana dikutip oleh Dr. Ismail Lubis,[10]tentulah ada untungnya bahwa Al-Qur’an yang saya terjemahkan sudah ada terjemahannya dalam bahasa-bahasayang saya kuasai. Tidak ada salahnya untuk mempergunakan terjemahan-terjemahan tersebut sebagai perbandingan, asalkan induk yang diterjemahkan tetap Al-Qur’an dalam Bahasa Arab.” Sebagai bahan pembanding, H.B. Jassin menggunakan terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa, antara lain: Al-Qur’an dam terjemahannya dari Departemen Agama RI; Tafsir Qur’an karya H. Zainuddin Hamdy dan Fachruddin Hs; Al-Qur’an Terjemahan Indonesia dari TNI AD; Al Furqan karya A. Hassan; Tafsir Qur’an Karim karya Mahmoed Joenoes; The Holy Qur-an karya Abdullah Yusuf; The Massageof The Qur’an karya Hashim Amir-Ali; The Koran Interpreted karya A.J. Arberry; The Qur’an karya Bell; Le Coran karya Blachere; The Koran karya N.J. Dawood; De Koran karya J.H. Kramers; De Koran karya Rudi Paret; The Meaning of The Glorious Koran karya Pickthall; The Koran karya J.M. Rodwell; The Koran karya George Sale; dan The Quran karya Muhammad Zafrulla Khan. Jassin juga memanfaatkan Corcordantiae Corani Arabicae karya Flügel.[11]

Jenis Terjemahan

Menurut Dr. Ismail Lubis, secara umum metode yang ditempuh oleh H.B. Jassin dalam menerjemahkan Al-Qur’an adalah menerjemahkannya harfiyah. Hal ini tampak dari kecenderungan Jassin untuk membiarkan lafadz-lafadz Al-Qur’an diconversikan apa adanya dengan padanan katanya dari Bahasa Indonesia, sebagai contoh, dalam Surat An Naba’, kata “an-naba’ al-‘azhim” diterjemahkan menjadi “berita besar”; “kallaa, saya’lamuun” diterjemahkan menjadi “tidak, mereka akan tahu”; “wa ja’alnaa al-laila libaasan” diterjemahkan menjadi “dan kami jadikan malam sebagai pakaian”, kata kata “ruh” diterjemahkan sebagai “Ruh”; dan lain-lain. Menurut Dr. Ismail Lubis, terjemahan seperti itu tidak memberi kejelasan maksud kepada pembaca sehingga ia termasuk terjemah secara harfiyah. Meski demikian, Dr. Ismail Lubis juga mengakui bahwa, di banyak tempat, H.B. Jassin menggunakan terjemah maknawiyah, itu dilakukan dengan memberi tambahan keterangan di antara tanda kurung untuk memberi kejelasan makna.

Jika kita mengacu pada definisi terjemah harfiyah yang diutarakan oleh Ash-Shabuni, Al-Qaththan dan Az-Zarqani, terjemahan Jassin ini sebenarnya termasuk terjemah maknawiyah. Adanya kata-kata kiasan yang diterjemahkan begitu saja dengan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia nampaknya sengaja dilakukan untuk mempertahankan keindahan sastranya, seperti malam disebut pakaian, atau cakupan maknanya yang luas, seperti ruh yang dapat berarti Jibril as maupun ruh manusia. Terbukti, Jassin lebih sering tidak terikat dengan kosa kata dan susunan kata dari ayat-ayat yang beliau terjemahkan. contoh dari surat terpendek ini mungkin bisa memberi gambaran:

Terjemahan H.B. Jassin

Ayat

Sungguh, telah Kami karuniakan kepadamu kelimpahan

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Karenanya, sembahlah Tuhanmu dan berkorbanlah

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Sungguh, orang yang membenci engkau, ia bakal tanpa keturunan

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Bandingkan dengan contoh terjemahan harfiyah di bawah ini:

Terjemah harfiyah

Ayat

Sesungguhnya Kami, Kami telah memberimu kelimpahan

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Sesungguhnya orang yang membencimu ia (adalah) orang yang mandul

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Keunikan

Keunikan terjemah Al-Qur’an karya H.B. Jassin adalah gaya pengungkapannya yang puitis. Hamka menjelaskan apa yang dimaksud dengan terjemahan Al-Qur’an yang puitis, sebagaimana diinginkan oleh H.B. Jassin. Hamka menyatakan, “Maka bukanlah berarti bahwa H.B. Jassin membuatterjemahan Al-Qur’an dengan susunan sebagai syair, melainkan sekedar memilih kalimat dan susunan kata yang indah, yang lebih layak bagi seorang muslim melakukannya demi monghormati bahasa Al-Qur’an karena Bahasa Indonesia Baru pun sedang dalam perkembangan pula.”[12]

Tanggapan terhadap Al Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia

Apresiasi terhadap karya H.B. Jassin datang dari banyak kalangan. Hamka sebagai ketua MUI pada waktu itu memberi penghargaan dan dukungan penuh terhadap terjemahan bernuansa sastra ini, diwujudkan dengan kata sambutan yang beliau berikan untuk Bacaan Mulia pada cetakan pertama dan tetap disertakan pada cetakan kedua dan ketiga. Dukungan juga mengalir dari ketua MUI Aceh, Prof. Dr. Hasjmy, yang dalam banyak kesempatan

Kritik secara umum dibanyak dialamatkan kepada kapasitas penerjemah yang tidak membidangi kajian Al-Qur’an. Hal ini tampak pada pernyataan Hamka mengisahkan komentar seorang sahabatnya, “sayang, H.B. Jassin bukan ulama.”[13]  Prof. Hasjmy juga menyampaikan kritik dari seorang sahabatnya, “sahabat baik saya itu berkata dengan sinis, H.B. Jassin yang tidak tahu Bahasa Arab telah berani menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Indonesia dan ternyata banyak salahnya.”[14] Hamka sendiri menjawab kritik ini dengan menunjukkan adanya fakta bahwa kontribusi para sarjana non-ulama terhadap kajian keIslaman di dunia Islam bukanlah hal yang aneh.

Kritik secara umum terhadap Bacaan Mulia juga didasarkan pada kenyataan bahwa Al-Qur’an bukanlah syair. Usaha H.B. Jassin untuk mempuitiskan terjemahan Al-Qur’an terkesan mengada-ada. Menurut Hamka, tidak ada salahnya jika terjemahan Al-Qur’an dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kalimat dan susunan kata yang indah, yang lebih layak bagi seorang muslim untuk melakukannya demi menghormati Al-Qur’an.[15]

Dr. Ismail Lubis dalam desertasinya memberikan kritik secara umum terhadap Bacaan Mulia. Menurut beliau, terjemahan ini belum merealisasikan maksud yang dikehendaki dari sebuah terjemahan Al-Qur’an.[16]

Di samping kririk secara umum, beberapa pihak juga menelaah hasil terjemahan H.B. Jassin secara rinci. Di antara mereka ada yang melakukan telaah dan mengirim surat kepada Menteri Agama RI. Mereka adalah H. Oemar Bakry, Team Peneliti Bacaan Mulia H.B. Jassin dari Surabaya, dan Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ Departemen Kesehatan RI. Dewan dakwah Islamiah Jakarta Raya juga mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai kesalahan-kesalahan terjemah di dalam Bacaan Mulia karya H.B. Jassin. Media cetak pun ikut meramaikan polemik seputar Bacaan Mulia, seperti Harian Pelita yang pada 22 dan 23 Desember 1978 menurunkan artikel Aminuddin Aziz dengan judul “Bacaannya Mengasyikkan, tapi terjemahannya perlu diamankan.”, juga harian Pos Kota yang pada 23 Oktober 1978 memberitakan pernyataan dua anggota DPR, Zaidan Djauhari dan Amin Iskandar, tentang banyaknya kesalahan yang terdapat dalam terjemahan Al-Qur’an karya H.B. Jassin.[17] Tanggapan dalam bentuk buku juga muncul. Seorang tokoh di Padang Panjang bernama Nazwar Syamsu pada bulan November 1978 mempublikasikan apa yang disebutnya sebagai kesalahan-kesalahan terjemahan H.B Jassin berikut koreksinya dalam buku setebal 208 halaman berjudul “Koreksi Terjemahan Bacaan Mulia HB Jassin”.

Semua kritik secara rinci itu berkaitan dengan masalah kesalahan H.B. Jassin dalam memahami dan menterjemahkan lafadz atau kalimat dalam Al-Qur’an yang beliau terjemahkan. Contohnya adalah kritik H. Oemar Bakr terhadap inkonsistensi H.B. Jassin dalam menerjemahkan kata “هدى”. Kata ini pada Al-Baqarah ayat 2 beliau terjemahkan menjadi “petunjuk”, namun pada ayat ke-16, kata itu beliau terjemahkan menjadi “pimpinan”. Team Peneliti Bacaan Mulia dari Surabaya mengajukan beberapa koreksi, seperti pada surat Al-Baqarah ayat 44, di mana H.B. Jassin menerjemahkan frase “وتنسون أنفسكم” menjadi “sedang kamu sendiri lupa”, padahal, menurut tim tersebut, yang benar adalah, “kamu melupakan dirimu sendiri”.[18]

 


 

 

BAB III

Kesimpulan

Penulisan Bacaan Mulia dilatarbelakangi oleh keinginan H.B. Jassin untuk menghasilkan terjemah Al-Qur’an berbahasa Indonesia yang indah dan enak dibaca. H.B. Jassin menerjemahkan Al-Qur’an secara langsung dengan menggunakan terjemahan-terjemahan lain sebagai sumber-sumber pembanding. Secara umum, Bacaan Mulia merupakan terjemah maknawiyah. Keunikan Bacaan Mulia terletak pada pemilihan kata dan susunannya yang puitis. Karya H.B. Jassin ini menuai respon hangat dari publik, ada yang pro dan ada pula yang kontra.

 

Daftar Pustaka

Abu Syahbah, Muhammad bin Muhammad. 2002. Al-Madkhal liDirasati Al-Qir’an Al-Karim. Kairo: Maktabah As-Sunnah

Al-Qaththan, Manna’ Khalil. 2001. Studi Ilmu-ilmu Qur’an, alih bahasa oleh Drs. Mudzakir AS. Jakarta: Litera AntarNusa

Ash-Shabuni, Muhammad ‘Ali. 2003. At-Tibyan fi al-‘Ulum al-Qur’an. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah

Az-Zarqani, Muhammad Abdul ‘Azim. 2004. Manahil al-‘Irfan fii al-‘Ulum al-qur’an. Beirut: Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah

Jassin, H.B. 1991. Bacaan Mulia.Jakarta: Penerbit Djambatan

________. 1995.  Kontroversi Al-Qur’an Berwajah puisi. Jakarta: Grafiti

Lubis, Ismail. 2001. Falsifikasi Terjemahan Al-Qur’an Departemen Agama Edisi 1990. Yogyakarta: P.T. Tiara Wacana

Nasrullah. 2003. Tinjauan Terhadap Al-Qur’an Al-Karim Karya H.B. Jassin. Skripsi. Fakultas Adab dan humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

[1] Muhammad Abdul ‘Azim Az-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fii al-‘Ulum al-qur’an (Beirut: Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah, 2004), h. 348

[2] Ibid., h. 432

[3] Hasjmy, Salahkah Jassin Karyanya Alquran Berwajah Puisi, dalam H.B. Jassin, Kontroversi Al-Qur’an Berwajah puisi (Jakarta: Grafiti, 1995), h. 93

[4] Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal liDirasati Al-Qir’an Al-Karim (Kairo: Maktabah As-Sunnah, 2002), h. 21

[5] Muhammad Abdul ‘Azim Az-Zarqani, Manahil al-‘Irfan, h. 349

[6] Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, At-Tibyan fi al-‘Ulum al-Qur’an (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2003), h. 211

[7] Manna’ Khalil Al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, alih bahasa oleh Drs. Mudzakir AS, (Jakarta: Litera AntarNusa, 2001), h. 447

[8] Muhammad Abdul ‘Azim Az-Zarqani, Manahilul ‘Irfan, h. 343-344

[9] Nasrullah. Tinjauan Terhadap Al-Qur’an Al-Karim Karya H.B. Jassin. Skripsi. (Jakarta: Fakultas Adab dan humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2003), h. 77

[10] Ismail Lubis, Falsifikasi Terjemahan Al-Qur’an Departemen Agama Edisi 1990, (Yogyakarta: P.T. Tiara Wacana, 2001), h. 112

[11] H.B. Jassin, Bacaan Mulia (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1991), h. 890-891

[12] Hamka, Sambutan Hamka pada cetakan pertama Bacaan Mulia dalam Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia, (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1991), h. XVI

[13] Hamka, loc. cit.

[14] Hasjmy, Salahkah Jassin Karyanya Alquran Berwajah Puisi, dalam H.B. Jassin, Kontroversi Al-Qur’an Berwajah puisi, h. 92

[15] Hamka, loc. cit.

[16] Ismail Lubis, Falsifikasi Terjemahan Al-Qur’an, h. 182

[17] Ibid., h. 119

[18] Ibid., h 115-117

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s